Minggu, 21 Oktober 2012

Mengambil Keputusan Itu..

      Ada banyak pertimbangan kita di dalam mengambil sebuah keputusan, salah satunya ketika kita tidak bisa membuat keputusan itu adalah karena memikirkan kemashalatan orang banyak, tidak hanya diri sendiri.
Seperti sekarang ini, sebenarnya kalau boleh jujur saya sudah sangat yakin akan keputusan yang saya ambil tapi yah lagi-lagi setiap mengambil keputusan kita juga harus memikirkan orang di sekitar kita. Sekiranya keputusan itu kita ambil apakah pas ataukah cocok dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.
Apakah mereka merasa nyaman ataukah tidak ada yang merasa tersakiti ketika kita mengambil keputsan itu.
Yaah.. lagi-lagi memang bukan persoalan yang mudah, khususnya saya sendiri. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang sedikit individualistik tidak tau karena apa, tapi karena saya sering merasa "hidup sendiri".     "   "Hidup sendiri" bukan berarti saya tinggal seorang diri, tidak.. tapi mungkin jika saya lihat ke dalam diri saya, bukan bermaksud bercerita sedih atau minta dikasihani, tapi mungkin karena memang itulah penyebabnya. Saya sudah lama ditinggal kedua orang tua,saya saat itu ketika papa saya sudah duluan menghadapNya  saat saya kelas tiga SD, lalu mama saya pergi juga menghadapNya saat saya kelas dua SMP, pada saat itu juga kakak saya yang tertua sedang kuliah di jogja dan abang saya  memang tinggal dengan saya, waktu itu karena alasan kami masih "terlalu kecil" dan tidak ada yang mengurus sepeninggal mama saya, saya dan abang saya harus pindah ke rumah abangnya papa saya. Yah setelah itu abang saya juga pindah ke rumah abangnya papa saya yang satu lagi. Jadilah saya semakin merasa "hidup sendiri" walau sebenarnya di rumah abangnya papa saya itu rame orang.

      Yah kembali lagi soal mengambil keputusan, sejujurnya biasanya dalam mengambil keputusan saya itu cenderung egois, karena merasa sendiri itu. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi, karena sudah setahun belakangan ini saya pindah rumah dan tinggal berdua dengan kakak saya. Mau tidak mau, suka tidak suka, mudah atau sulit saya harus sudah bisa mengambil keputusan yang tidak hanya untuk diri saya pribadi tapi juga untuk orang lain.
Ini juga efek positif dari keikutsertaan saya dalam sebuah keorganisasian yang bergerak dalam bidang kerohanian islam. Jujur awal-awal hingga mungkin hampir mencapai tahap akhir di keterlibatan saya dalam organisasi tersebut saya susah untuk menerima keputusan atau mengambil keputusan sesuai dengan yang disepakati jamaah. untuk saya itu begitu sulit dan terkadang berada diluar kemampuan daya pikir saya, tapi sekali lagi mau atau tidak mau, suka atau tidak suak, mudah satupun sulit saya harus sudah mulai belajar. Mulai belajar memikirkan perasaan orang lain, mulai berpikir jika saya ambil langkah ini apa dampaknya bagi orang lain. Tapi ini juga tidak selamanya benar, seperti cerita seorang ayah dan anak yang menaiki keledainya. Ketika si ayah yang menaiki keledainya dan si anak menuntun maka orang-orang yang berada disekitar mereka berkata "dasar ayah yang jahat, masa' anaknya dibiarkan menuntun keledai sementara si ayah enak-enakan menaiki keledainya". Atau ketika si anak yang menaiki keledai dan si ayah yang menuntunnya maka orang-orang disekitar mereka berkata yang lain lagi "dasar anak durhaka, mengapa ayahnya yang sudah tua dibiarkan menuntun keledai sementara ia yang masih muda dan kuat enak-enakan duduk di atas keledai" atau ketika mereka mengambil keputusan untuk menaiki keledai itu berdua maka tanggapan orang disekitar mereka juga berbeda "dasar ayah dan anak yang jahat, tega-teganya menyiksa bintang dengan menaikinya berdua, apa mereka kira keledai itu tidak bisa mati."
Yah itulah ketikapun kita mengambil keputusan dan terus-terusan mendengarkan kata orang lain, maka juga begitu hasilnya, tidak ada keputusan kita yang benar.

      Sekali waktu saya pernah bertanya dengan seorang sahabat saya yang seorang lelaki, ketika itu kami sedang ngobrol-ngobrol lewat sms, saya bertanya padanya tentang mengambil keputusan dan kemashalatan orang banyak, maka dijawabnya dengan jawaban yang saya bilang simpel tapi mengena, kurang lebih kata beliau "jikalau itu tidang melanggar syariah agama, yah ambil saja keputusan itu, kalau terus-terusan mikirin orang lain maka anti akan seperti cerita ayah,anak dan keledainya".
Sesungguhnya saya merasa yang dikatakan beliau itu adalah benar, tapi masalahnya sekarang saya sudah memilih untuk tinggal dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar saya, dan berarti saya sudah jadi bagian dari mereka.
Dan saat ini sebenarnya saya juga ingin mengambil sebuah keputusan atau lebih teapatnya sebuah usaha yang harus dengan sebuah keputusan, saya tau jika dipandang dari sudut pandang agama  adalah amat baik, tapi saya tidak tau jika dipandang oleh orang-orang disekitar saya.
 Maka saat ini ketika saya mengambil keputusan tetapi tidak memikirkan kemashalatan orang banyak maka sungguh terkadang saya tidak siap mebayangkan apa yang akan terjadi ke depannya.

Sungguh diri ini amat lemah dan butuh banyak penguatan.

Wallahu'alam Bishawab

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sering mengucapkan
"Yaa muqallibal quluubi wal abshaari, tsabbit qalbii 'alaa dinik."
("Wahai dzat yang membolak-balikkan perasaan dan mata hati, teguhkanlah hatiku dalam agamaMu.")

Para sahabat lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan ajaran yang engkau bawa. Adakah engkau masih mengkhawatirkan kami?" "Ya", jawab beliau, "sesungguhnya, hati itu diantara dua jari-jemari Allah. Dia membolak-balikannya dengan sekehendak-Nya."


Minggu, 14 Oktober 2012

PACARAN?? TOLONG DIPIKIRKAN LAGI..

                            بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ada hal yang menjadi pertanyaan besar dalam diri saya.. Dan bukannya saya sombong dan semoga Allah menjauhkan saya dari hal itu..

Pertanyaan saya yang paling besar seakarang ini adalah KENAPA ORANG MAU PACARAN?? padahal sudah tau pacaran itu banyak ga baiknya. Okelah soal pacaran itu dosa ga usah kita ikutkan, tapi sudah jelas-jelas pacaran itu menyakitkan, kenapa orang tetap juga mau pacaran.
Kenapa menyakitkan?? jujur saya dulu pernah pacaran (ini menjadi hal terbodoh yang pernah saya lakukan) , dan saya tau gimana rasanya. 
Rasanya harus memikirkan orang yang bukan "siapa-siapa kita" itu adalah hal yang paling melelahkan buat saya. Saya pernah pacaran selama 4 bulan, dan yang saya ingat pacaran saya itu hanya memikirkan dia seorang. Kira-kira dia lagi ngapain, udah makan atau belum, dia lagi pergi sama temennya, kira-kira bohong ga yah?? terus cemas takut-takut dia selingkuh. Ngecek FB,twitter,hapenya tiap hari atau kadang kita diamarah-marahin dia karena apa yang kita buat ga pas sama dia, atau terkadang dia boleh pergi sesuka hati kemana, dan kita wajib di rumah aja. Heloooooooooooooooo.. pacaran itu selain DOSA ga ada untungnya lohh.. Senengnya cuma sebentar doank pas lagi sama dia, selebihnya kita itu cemas dan makan hati tiap hari mikirin dia yang bukan sapa-sapa kita. Capek lohh, makan hati, jadi ga bermanfaat buat orang lain selain untuk si pacar. Itu juga kalo manfaat, yang ada maksiat woyyy..
Sungguh tulisan ini saya buat karena miris mendengar kisah-kisah orang yang pacaran (khususnya teman-teman saya), terus dicuekin sama pacarnya terus galau, terus nangis-nangis.. Ya Allah.. kayak ga ada yang lebih bermanfaat dari itu.
Saya bukan sombong karena saya lagi ga pacaran atau mungkin dikira ga laku karena ga punya pacar (yang ga laku ga banget kayaknya :D ) tapi yah itu tadi saya udah ngerasain yang namanya pacaran dan sedikitpun kalo saya pribadi ga ada ngerasa ada manfaat dari pacaran itu. 
Pacaran itu cuma dilakukan sama para laki-laki yang ga berani punya komitmen serius untuk nikahi seorang perempuan, dia pengen cara cepat doank yang murah biayanya supaya bisa mesra-mesraan sama tuh perempuan.. MasyaAllah.. Naudzubillah.. Semoga kita dijauhkan dari hal itu.
Dan kita perempuan yang halus sekali perasaannya bak kapas (kapas cuuyyy) ngikut aja sama tuh laki-laki dengan 1001 pesona dan gombalan. Padahal serius, si pacar itu bukan siapa-siapa kita loh.. Ingeettt.. BUKAN SIAPA-SIAPA KITA, tapi kita mau aja digombalin, dibohongi di.. dan in-in yang lainnya. Cuma orang yang pernah pacaran dan yang sampai saat ini sedang pacaran lah tau apa jawabannya. Dan untuk yang sekarang masih pacaran, khususnya perempuan tolong pikirin lagi makna pacaran itu. Pikirin dengan kepala yang bening dan hati kecil kamu bahwa sebenarnanya apa sih manfaat dari pacaran itu?? 
Manakah lebih banyak, Menyenangkan atau Malah Sakit Hati??
Manakah lebih banyak, MANFAATKAH atau MUDHARATKAH??

Tolong renungkan..

Wallahu'alam Bishwab




وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Wa Lā Taqrabū Az-Ziná 'Innahu Kāna Fāĥishatan Wa Sā'a Sabīlāan


"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (Q.S Al-'Isra' (17) : 32)



Dari Jabir Bin Samurah Radhillahu'anhu, dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam: “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya” (Hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi). 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Belajar Ketulusan dari Ukasyah Ibnu Muhsin Radhiallahu'anhu


      Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu.
Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma.
Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yang dicinta, itulah muasalnya.
Setelah peristiwa Haji Wada' kesehatan nabi Muhammad Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah saat-saat perpisahan dengan purnama Madinah telah menjelang. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari banyak kegembiraan.

        Dan masa pun berselang, masjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya Nabi bertanya.
"Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik".
Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.
Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya yang kedua kalinya, dan kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja terlihat para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah 'Ukasyah Ibnu Muhsin.
"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku" 
ucap 'Ukasyah.

       Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan 'Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.
Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata:
"Hai 'Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul"
"Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", Nabi memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah dengan pandangan memohon. 'Ukasyah tidak bergeming.
Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani.
"Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku"
"Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah kembali" Tukas kekasih yang baru saja sembuh itu.
"Hai 'Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga", kini yang tampil di depan Ukasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Rasul menegur mereka. "Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah".
Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi 'Ukasyah mengambil kisas. "Wahai 'Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku," Nabi selangkah maju mendekatinya.
     
         "Ya Rasulullah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan pakaian gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.
Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. 'Ukasyah menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka".
Dengan tersenyum, Nabi berkata: "Ketahuilah duhai manusia, barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini". 'Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. "Duhai, 'Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga". Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.
Maka alangkah indahnya saat manusia yang dicinta itu mau dikisas oleh sahabat 'Ukasyah Ibnu Muhsin, kita lah yang diperkenankan untuk menggantikan hujaman dera cambukan yang memilukan itu, yang membuat masjid kala itu mendengung seperti sarang lebah. Serta buliran air mata para sahabat yang tak terbendungkan lagi. 

          sambil berucap  "Tidak Ya Rasul Allah,aku saja sebagai ganti kisas yang akan dihujamkan oleh sahabat 
'Ukasyah, pukullah aku, Andakain tubuhku hancur berkeping-keping asal engkau tiada luka sama sekali, siapa tega melihat goresan luka ditubuhmu oleh kisas yang akan dilakukan oleh sahabat terkasihmu 'Ukaysah. Maka relakan tubuh hamba hancur hanya untukmu Duhai Pemimpin Kami Duhai Utusan Allah

Jumat, 05 Oktober 2012

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro


Oleh : Ustadz Anis Matta
"Taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. "


RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? 


Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. *

 
*diambil dari buku Anis Matta: 'Menikmati Demokrasi' (cetakan 1, Juli 2002)

Senin, 24 September 2012

Sendiri

di sela kesindirian 
kutersadar diri akan segala dosa
semua yang tlah kulakukan 
membuat diriku terjauh dari-Mu


namun kini kuyakini 
cinta dan kasih-Mu tiada terganti
apa mungkin kudapati 
hidayah darimu kuatkan imanku


Tuhan ampunilah daku 
kuharapkan hidayah dari-Mu
saat ini hingga nanti 
aku kembali kepada-Mu


By: Tashiru

Minggu, 23 September 2012

7 Surga

Kumandang cinta bergema hingga ke hati
lafaz-lafaz asmara memanggil jiwa yang rapuh

rapuhnya aku Kau Maha Tahu
pagi siang malam dunia yang ku tuju
saat ku jatuh baru ku sadar kaulah segalanya

Tuhan ku angkat kedua tanganku
sudikah Engkau menerima cintaku
berdarah-darah akan ku tempuh
menggapai tarikat cinta-Mu

7 surgapun aku tak pantas
menerima diri yang bersimbah dosa
ku harap cinta dan ampunan-Mu
setinggi araz-Mu seluas semesta cinta

rapuhnya aku Kau Maha Tahu
pagi siang malam dunia yang ku tuju
saat ku jatuh baru ku sadar kaulah segalanya

Tuhan ku angkat kedua tanganku
sudikah Engkau menerima cintaku
berdarah-darah akan ku tempuh
menggapai tarikat cinta-Mu

7 surgapun aku tak pantas
menerima diri yang bersimbah dosa
ku harap cinta dan ampunan-Mu
setinggi araz-Mu seluas semesta cinta

Tuhan ku angkat kedua tanganku
sudikah Engkau menerima cintaku
berdarah-darah akan ku tempuh
menggapai tarikat cinta-Mu

7 surgapun aku tak pantas
menerima diri yang bersimbah dosa
ku harap cinta dan ampunan-Mu
setinggi araz-Mu seluas semesta cinta


By: Edcoustic

Syair Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu



Aku kuatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan
Banyak orang baik tapi tidak berakal,
Ada orang berakal tapi tidak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai,
Ada yang khusuk tapi sibuk dalan kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ada ahli maksiat tapi bagai sufi,
Ada yang banyak tertawa tapi hatinya berkarat,
Ada yang banyak menangis tapi kufur nikmat,
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,
Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut,
Ada yang berlisan bijak namun tak memberi teladan,
Ada pezina yang tampil menjadi figur,
Ada yang berilmu tapi tak faham,
Ada yang faham tapi tak menjalankan,
Ada yang pintar tapi membodohi,
Ada yang bodoh tak tau diri,
Ada yang beragama tapi tak berahlak,
Ada yang berahlak tapi tak bertuhan,
Lalu diantara semua itu dimanakah aku berada?